Mengenal Jenis Jenis Affiliate Marketing Beserta Kekurangan dan Kelebihannya

Sebagai salah satu bentuk internet marketing yang paling populer, Anda pasti sudah tidak asing dengan istilah affiliate marketing. Namun, sudahkah Anda tahu tentang jenis jenis afilliate marketing? Pengetahuan tentang hal ini penting bagi Anda yang tertarik untuk ikut terjun di dalam bisnis ini.

Mengapa Anda Harus Tahu Jenis-Jenis Affiliate Marketing?

Secara definisi, program affiliate marketingadalah suatu program pemasaran secara online dengan melibatkan tiga pihak yang melakukan kerja sama (berafiliasi) dengan aturan tertentu. Ketiga pihak tersebut adalah vendor, merchant (pengelola atau pemilik marketplace), dan affiliate marketer.

Dengan sistem dan cara kerja mudah serta sistem pembayaran yang teratur, wajar saja jika bisnis affiliate marketing makin banyak diincar orang. Bahkan, bisnis afiliasi kini bukan lagi sekadar menjadi sumber penghasilan tambahan, melainkan menjadi sumber pendapatan utama.

Meskipun sederhana, ternyata program affiliate marketing memiliki beberapa jenis dengan sistem kerja masing-masing. Lalu, mengapa Anda perlu mengenal jenis jenis affiliate marketing? Setidaknya, ada tiga alasan, yaitu:

  • membuka peta pemikiran mengenai seluk-beluk berbisnis melalui internet, terutama di bidang afiliasi;
  • memahami kelebihan dan kekurangan setiap jenis program afiliasi; dan
  • agar Anda dapat memutuskan jenis program afiliasi yang paling menguntungkan sesuai keinginan dan kemampuan yang dimiliki.

Jenis-Jenis Affiliate Marketing Berdasarkan Sistem Pembayaran

Selama ini, kebanyakan orang mengira bahwa affiliate marketing hanya terbatas pada program pay per sale (PPS), yaitu marketer akan mendapat komisi jika ada orang yang membeli melalui tautan afiliasinya. Pada kenyataannya, ada enam jenis affiliate marketing, yaitu sebagai berikut.

1.       Pay Per Click (PPC)

Program Pay per Click (PPC) adalah jenis affiliate marketing yang paling populer. Pada jenis ini, pihak vendor (produsen atau penjual) akan membayar komisi kepada afiliasi mereka untuk setiap klik iklan atau tautan yang terjadi.

Jenis ini paling disukai para marketer karena mereka akan menerima komisi setiap kali ada pengunjung website/blog yang mengeklik iklan banner atau text link yang mereka pasang atau cantumkan dalam artikel promosi. Komisi akan tetap diterima meskipun tidak terjadi transaksi pembelian produk.

Kelebihan:

  • Anda sebagai marketer tidak perlu melakukan follow-up kepada calon pembeli dan
  • Tugas Anda hanyalah mendatangkan pengunjung website sebanyak mungkin.

Kekurangan:

  • Pendaftaran relatif sulit karena salah satu syaratnya adalah Anda harus memiliki pengunjung web yang cukup banyak.
  • Komisi yang diterima cukup kecil, yaitu hanya berkisar antara Rp500,00 hingga Rp1.000,00 per klik atau tidak lebih dari $1 untuk vendor/merchant dari luar negeri.
  • Anda bisa terkena bannet atau pemutusan hubungan jika terbukti melanggar aturan main.

2.      Pay per Performance (PPP)

Program Pay per Performance (PPP) adalah jenis affiliate marketing yang menjadi favorit para vendor. Alasannya, jenis ini paling menguntungkan bagi penjual karena mereka hanya harus membayar peserta afiliasi jika terjadi konversi dalam proses pemasarannya.

Bagi para anggota afiliasi, jenis ini juga cukup disukai karena komisinya cukup tinggi, lebih besar dibandingkan sistem PPC, yaitu berkisar antara 15% hingga 30% dari penjualan yang dihasilkan. Pendaftarannya pun relatif lebih mudah tanpa syarat yang memberatkan.

3.      Pay per Sale (PPS)

Model Pay per Sale (PPS) merupakan bentuk pertama dari PPP. Pada sistem ini, pihak vendor akan membayar marketer setiap kali ada pengunjung yang diarahkan ke website milik vendor dan kemudian melakukan transaksi dengan membeli produk atau menggunakan layanan yang ditawarkan.

Bisa dikatakan, di antara jenis lainnya, program PPS merupakan yang tersulit. Anda harus mulai bekerja sejak awal, mulai dari mendatangkan pengunjung tertaget, “merayunya” agar melakukan aksi, lalu melakukan follow-up si calon pembeli agar mau membeli produk.  

Untuk sistem pembayarannya, terdapat dua cara yang biasa diterapkan para vendor. Cara pertama adalah dengan menerapkan perhitungan komisi tetap dan cara kedua dengan sistem perhitungan progresif. Baik tetap maupun progresif, besarnya komisi PPS biasanya jauh lebih besar daripada PPC.

Kelebihan:

  • Pendaftaran sangat mudah dan kebanyakan tidak dipungut biaya.
  • Komisinya cukup besar, yaitu antara 30% sampai dengan 70% dari hasil penjualan.

Kekurangan Program PPS:

  • Anda harus memiliki keahlian membuat copywriting agar bisa menarik minat orang untuk melakukan aksi.
  • Anda harus bisa mendatangkan pengunjung website yang banyak dan tertarget, yaitu orang-orang tertentu yang memang tertarik pada niche yang dipilih.
  • Anda harus melakukan follow-up agar pengunjung website yang sudah mengeklik iklan atau tautan mau melanjutkan aksinya dengan membeli produk yang dipromosikan.

4.      Pay per Lead (PPL)

Bentuk kedua dari PPP adalah Pay per Lead (PPL) yang pada umumnya digunakan para perusahaan asuransi, keuangan, MLM, dan perusahaan yang sedang tumbuh sehingga sangat mengandalkan jumlah anggota. Program PPL dipercaya dapat meningkatkan jumlah anggota secara cepat.

Vendor akan membayar affiliate marketer jika pengunjung yang diarahkan ke website vendor mau mengisi form aplikasi, mengunduh, atau aksi lain yang berhubungan dengan bisnis perusahaan. Perlu diingat, Anda hanya akan dibayar jika orang tersebut memenuhi kualifikasi dari merchant atau vendor.

Program ini juga dikenal dengan nama Cost per Action (CPA). Besarnya komisi yang diterima tidak saja dipengaruhi jumlah orangnya, tetapi juga tergantung jenis aksi yang harus dilakukan. Makin lengkap aksi yang diminta, komisinya pun makin besar.

Kelebihan:

  • Pendaftarannya sangat mudah.
  • Anda tidak perlu melakukan follow-up.

Kekurangan:

  • Diperlukan keahlian membuat copywriting sehingga pengunjung website tertarik untuk mengeklik banner atau tautan yang Anda sertakan.
  • Anda harus bekerja ekstra keras untuk mendatangkan pengunjung tertarget sebanyak-banyaknya.

5.      Paid to Click (PTC)

Dibandingkan jenis lainnya, pogram PTC ini merupakan sistem affiliate marketing yang paling mudah. Bagaimana tidak, pada program ini, Anda akan menerima komisi hanya dengan mengeklik iklan yang Anda pasang sendiri. Lo, kok bisa?

Banyak perusahaan yang ingin website-nya tampil di halaman pertama Google yang dipengaruhi oleh banyak-sedikitnya kunjungan ke website tersebut. Mengeklik iklan milik sendiri juga akan ikut menaikkan peringkat sehingga website bisa tampil di halaman pertama hasil pencarian.

Kelebihan:

  • Pendaftaran sangat mudah dan gratis.
  • Anda tidak perlu memiliki website atau blog sendiri.
  • Sangat mudah mendapatkan komisi.

Kekurangan:

  • Komisinya sangat kecil.
  • Rentan terhadap penipuan, terutama dari iklan yang ditawarkan.

6.      Paid per Search Affiliate Program (PPSe)

Cara kerja sistem ini cukup unik karena menjadikan situs yang Anda miliki berperan seperti sebuah mesin pencari. Anda akan menerima komisi jika ada pengunjung yang melakukan pencarian melalui menu “search box” yang ada di website milik Anda. Yang menarik, ada juga perusahaan yang menawarkan program gabungan jenis jenis affiliate marketing tersebut. Sebagai contoh, Anda akan mendapat komisi jika ada yang mengeklik banner atau tautan dan jika ia juga membeli produk, Anda kembali mendapat komisi. Jadi, jenis mana yang Anda pilih?

Infografis Jenis-Jenis Affiliate Marketing